Recent Posts

Recent comments

Pengikut

Sponsors

Populasi dan Sampel

Populasi dan Sampel

“Populasi merupakan sekumpulan orang atau objek yang memiliki kesamaan dalam satu atau beberapa hal dan yang membentuk masalah pokok dalam suatu riset khusus. Populasi yang akan diteliti harus didefinisikan dengan jelas sebelum penelitian dilakukan.” (Santoso & Tjiptono, 2002, 79)

“ Sampel adalah semacam miniatur (mikrokosmos) dari populasinya” (Santoso & Tjiptono, 2002, 80)

Populasi dan Sampel (Population and Sample)

A. Pendahuluan

Salah satu langkah dalam penelitian ilmiah adalah menentukan populasi dan sample. Kesalahan dalam menentukan sampel dapat berakibat fatal, karena sampel menjadi tidak representatif, dan hasil penelitian tidak akan dapat mencerminkan keadaan yang sebenarnya. Oleh karena itu memilih tenik penentuan sampel yang tepat menjadi sangat penting untuk mendapatkan sampel yang representatif.

B. Pengertian Populasi Dan Sampel

Dalam suatu penelitian adakalanya peneliti meneliti semua sumber data yang direncanakan, agar data dan informasi yang diperoleh banyak dan bervariasi sehingga diharapkan hasilnya tidak jauh berbeda dari kenyataan. Akan tetapi dalam kenyataannya tidak semua populasi dapat diteliti karena suatu sebab yang tidak memungkinkan. Penelitian ilmiah boleh dikata hampir selalu hanya dilakukan terhadap sebagian saja dari hal-hal yang sebenarnya hendak diteliti.

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Jadi populasi bukan hanya orang, tetapi juga benda-benda alam lain. Populasi juga bukan sekedar jumlah yang ada pada obyek/subyek yang dipelajari, tetapi meliputi seluruh karakteristik/sifat yang dimiliki oleh subyek atau obyek itu.

Misalnya akan dilakukan penelitian di lembaga X, maka lembaga X ini merupakan populasi. Lembaga X mempunyai sejumlah orang/subyek dan obyek yang lain. Hal ini berarti populasi dalam arti jumlah/kuantitas. Tetapi lermbaga X juga mempunyai karakteristik orang-orangnya, misalnya motivasi kerjanya, disiplin kerjanya, kepemimpinannya, iklim organisasinya dan lain-lain. Juga mempunyai karakteristik obyek yang lain, misalnya kebijakan, prosedur kerja, tata ruang produk yang dihasilkan dan lain-lain. Yang terakhir berarti populasi dalam arti karakteristik. Satu orangpun dapat digunakan sebagai populasi, karena satu orang mempunyai berbagai karakteristik, misalnya gaya bicaranya, disiplin pribadi, hobi, cara bergaul, kepemimpinannya dan lain-lain. Misalnya akan melakukan penelitian tentang kepemimpinan presiden Y, maka kepemimpinan itu merupakan sample dari semua karakteristik yang dimiliki presiden Y. Jadi sample adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi ( Sugiyono, 2002:57 ).

C. Penggunaan Populasi dan Sampel


Populasi digunakan bila penelitian ingin mengetahui secara pasti keadaan populasi sesungguhnya yang memerlukan ketelitian dan kecermatan yang tinggi dan sumber informasi bersifat heterogen, di mana sifat dan karakteristik masing-masing sumber sulit dibedakan ( Margono, 1997 : 120 ).

Di bawah ini dikemukakan kapan seorang peneliti menggunakan populasi dalam penelitian, dan kapan pula ia menggunakan sample.

1. Menurut Aminuddin Rosyad ( 1987 : ), penggunaan sample dalam penelitian, bila :

1. jumlah populasi yang akan diteliti terlalu banyak
2. daerah populasi amat luas dan terpencar-pencar sulit dijangkau
3. waktu penelitian yang tersedia tidak memadai
4. dana yang tersedia amat terbatas
5. tenaga peneliti tidak mencukupi
6. fasilitas yang tersedia tidak memadai
7. sarana penelitian tidak mencukupi
8. keamanan untuk melakukan penelitian tidak terjamin, misalnya keadaan medan penelitian ganas.

Mengenai penggunaan sampel dalam penelitian, Agus Suradika ( 2000 ; 37-38 ) menjelaskan bahwa selain masalah biaya, waktu dan tenaga kondisi-kondisi di bawah ini dapat dijadikan alasan mengapa penelitian perlu menggunakan sampel. Kondisi tersebut adalah :

1. Bila individu yang akan diselidiki tak terbatas jumlahnya
2. Bila penelitian yang dilakukan bersifat destruktif
3. Bila obyek yang diteliti bersifat homogen
4. Bila tidak diperlukan ketelitian yang mutlak atau hasil penelitian segera dibutuhkan.

Dari dua pendapat tersebut dapat digabungkan dan saling melengkapi, karena ada persamaan dan perbedaannya, namun semuanya dapat dipakai sebagai alasan mengapa penelitian perlu menggunakan sampel.

1. Penggunaan Populasi dalam penelitian bila :
1. jumlah populasi yang akan diteliti terbatas dan sedikit
2. luas daerah penelitian tidak terlalu luas dan mudah dijangkau
3. waktu penelitian yang tersedia cukup lama
4. dana yang tersedia cukup
5. fasilitas penelitian cukup
6. tersedia sarana penelitian yang cukup
7. tersedia tenaga peneliti yang cukup terjaminnya keamanan dalam penelitian.

Meskipun banyak populasi yang anggotanya terbatas jumlahnya, seperti jumlah mobil di Jakarta, jumlah mahasiswa Universitas Indonesia, meskipun sebenarnya dapat dihitung tetapi karena sulit dilakukan maka dianggap tidak terbatas. Metode pengambilan data yang melibatkan seluruh anggota populasi disebut sensus ( Margono, 1997 : 120 ).

Digunakannya sample dalam penelitian adalah untuk mereduksi obyek penelitian dan melakukan generalisasi hasil penelitian, sehingga dapat ditarik kesimpulan umum.

Generalisasi dari sample ke populasi mengandung resiko kekeliruan atau ketidak tepatan, karena sample tidak akan dapat mencerminkan secara tepat keadaan populasi. Mengenai hal ini, Agus Suradika ( 2000: 39-40 )menyatakan bahwa biasanya, seorang penyelidik sering terlalu berani menetapkan daerah generalisasi yang terlalu luas, padahal daerah tersebut belum tentu terwakili oleh sample yang ada. Oleh karena itu dalam menentukan sample, daerah generalisasi merupakan salah satu hal yang harus diperhatikan, selain penegasan sifat-sifat populasi, sumber informasi tentang populasi, besar kecilnya sample dan teknik sampling.

Makin tidak sama sample itu dengan populasinya makin besar kemungkinan kekeliruan dalam generalisasi. Oleh karena itu teknik penentuan sample ( teknik sampling ) menjadi sangat penting peranannya dalam penelitian. Berbagai teknik penentuan sample pada hakekatnya adalah cara-cara untuk memperkecil kekeliruan generalisasi dari sample ke populasi sehingga diperoleh sample yang representativ, yaitu sample yang benar-benar mencerminkan populasinya.

D. Petunjuk Mengambil Sampel

Kesalahan dalam menentukan sampel akan mengakibatkan kesalahan fatal pula dalam menarik kesimpulan hasil penelitian. Untuk itu sangat perlu diketahui bagaimana cara mengambil sampel yang representatif. Menurut Winarno Surachmad yang dikutip oleh Agus Suradika ( 2000 : 39 ) : “ Untuk mendapatkan sampel yang representatif perlu dipahami langkah-langkah umum berikut, (1) bagaimana penyelidik menetapkan sifat-sifat populasi, kemudian (2) menetapkan perhitungan statistik untuk pengolahan data sampel dan akhirnya (3)menetapkan teknik penarikan samp. Adapun menurut Sumadi Suryabrata ( 1998 : 83 ) dan Margono ( 1997 : 87 ), ada empat parameter yang biasa dianggap menentukan representativness, yaitu :

a). Variabilitas populasi

Dari keempat parameter tersebut, variabilitas populasi merupakan hal yang “given”, artinya peneliti harus menerima sebagaimana adanya, tidak dapat mengatur atau memanipulasinya. Sedangkan keempat variable yang lain dapat diatur atau dimanipulasi oleh peneliti untuk mendapatkan sample yang representativ

b). Kecermatan untuk memasukkan ciri-ciri populasi

Kecermatan memasukkan ciri-ciri populasi ke dalam sampel menentukan tingkat representativnya sample.

c). Besar- kecilnya sample

Semakin besar sample yang diambil untuk populasi yang heterogen maka semakin tinggi taraf representativnya sample. Untuk populasi yang homogen sempurna sample cukup kecil saja.

d). Teknik penentuan sample

Teknik penentuan sampel ( teknik sampling ) adalah cara menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif.
E. Teknik Penentuan Sampel

Untuk memperoleh secara maksimal sampel yang representatif yang tidak didasari oleh keinginan peneliti, ada dua teknik sampling, yaitu :

1. 1. Random Sampling ( Probability Sampling )
2. 2. Nonrandom Sampling ( Nonprobability Sampling )

Random sampling adalah pengambilan sampel secara acak. Dalam teknik random sampling , semua individu dalam populasi baik secara sendiri-sendiri atau bersama-sama diberi kesempatan yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik ini sampai sekarang dipandang sebagai teknik yang paling baik. Untuk menentukan anggota sampel dalam random sampling dapat dilakukan dengan cara undian, ordinal, randomisasi dari tabel bilangan random ( Sutrisno Hadi, 1980 : 76, dikutip oleh Margono, 1997: 125 ).

Sedangkan Nonrendom sampling adalah teknik pengambilan sampel dimana tidak semua individu dalam populasi diberi peluang yang sama untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik ini mempunyai kemungkinan lebih rendah dalam menghasilkan sampel yang representatif.

Jenis-jenis sampel yang diperoleh dari teknik random sampling ( probabability sampling ) ada tiga, yaitu simpel random sampling, stratified random sampling dan cluster random sampling. Sedangkan jenis-jenis sampel nonrandom sampling ( non probability sampling ) adalah : sampling sistematis, sampling kuota, sampling aksidental, purposive sampling, sampling jenuh dan snowball sampling Sugiyono, 2002 : 61-63 ).

Penjelasan dari teknik-teknik sampling tersebut adalah sebagai berikut :

1. 1. Probability sampling

a). Simple random sampling

Dikatakan simple ( sederhana ) karena cara pengambilan sample dari semua anggota populasi dilakukan secara acak tanpa memperhatikan strata yang ada dalam anggota populasi. Cara demikian dilakukan bila anggota populasi dianggap homogen ( Sugiyono, 2002 : 59 ). Mengenai simple random sampling Margono ( 1997 : 126 ) menjelaskan bahwa teknik ini untuk mendapatkan sampel yang langsung dilakukan pada unit sampling. Dengan demikian setiap unit sampling sebagai unsur populasi yang terkecil memperoleh peluang yang sama untuk menjadi sampel atau untuk mewakili populasi. Teknik ini dapat dipergunakan bilamana jumlah unit sampling di dalam suatu populasi tidak terlalu besar.

b). Stratified Random Sampling

Dalam stratified random sampling dapat dipakai dua cara, yaitu proporsionate stratified random sampling dan disporpotionate random sampling

( 1 ). Proportionate Stratified Random Sampling

Teknik ini digunakan bila populasi mempunyai anggota/unsur yang tidak homogen dan berstrata secara proporsional. Suatu organisasi mempunyai pegawai dilihat dari latar belakang pendidikannya, maka populasi pegawai tersebut berstrata. Misalnya jumlah pegawai yang lulusan S2 = 30, S1 = 40, STM = 800, ST = 900, SMEA = 400, SD =300. Jumlah sample yang harus diambil harus meliputi strata pendidikan tersebut yang diambil secara proporsional.

( 2 ). Disproportionate Random Sampling

Teknik ini digunakan untuk menentukan jumlah sample, bila populasi berstrata tetapi kurang proporsional. Misalnya populasi pegawai dari PT tertentu berlatar pendidikan S3 = 3 orang, S2 = 4 orang, S1 = 90 orang, SLTA = 800 orang, SLTP = 700, maka 3 orang S3 dan 4 orang S2 diambil semuanya sebagai sample, karena dua kelompok ini terlalu kecil bila dibandingkan dengan kelompok S1, SLTA dan SLTP.

c). Cluster Sampling ( Sampling Daerah )

Teknik sampling daerah digunakan untuk menentukan sample bila obyek yang akan diteliti atau sumber data sangat luas, misalnya penduduk dari suatu negara, propinsi atau kabupaten. Untuk menentukan penduduk mana yang akan dijadikan suber data, maka pengambilan sampelnya berdasarkan daerah dari populasi yang telah ditetapkan.

Misal di Indonesia ada 30 propinsi dan sampelnya akan menggunakan 10 propinsi, maka pengambilan 10 propinsi itu dilakukan secara random. Tatapi perlu diingat karena propinsi-propinsi di Indonesia itu berstrata, maka pengambilan sampelnya perlu menggunakan stratified random sampling.

Teknik sampling daerah ini sering dilakukan melalui dua tahap, yaitu tahap pertama menentukan sample daerah, dan tahap berikutnya menentukan orang-orang yang ada di daerah itu secara random juga.

1. 3. Nonprobability sampling

a ). Sampling Sistematis

Sampling sistematis adalah teknik penentuan sample berdasarkan urutan dari anggota populasi yang telah diberi nomor urut.Misalnya anggota populasi yang terdiri dari 100 orang. Dari semua anggota itu diberi nomor urut 1 sampai dengan 100 orang. Pengambilan sample dapat dilakukan dengan nomor ganjil saja, atau genap saja, atau kelipatan dari bilangan tertentu, misalnya kelipatan 5, maka yang dijadikan sample adalah anggota nomor 5,10,15,20,25 dan seterusnya.

b). Sampling kuota

Sampling kuota adalah teknik untuk menentukan sample dari populasi yang mempunyai cirri-ciri tertentu sampai jumlah ( kuota ) yang diinginkan. Sebagai contoh akan melakukan penelitian terhadap pegawai golongan II dan penelitian dilakukan secara kelompok. Setelah sample ditentukan umpamanya 100 orang, dan jumlah anggota peneliti 5 orang, maka setiap anggota peneliti dapat memilih sample secara bebas sesuai dengan karakteristik yang ditentukan ( Golongan II ) sebanyak 20 orang.

c) Sampling Aksidental

Sampling aksidental adalah teknik penentuan sample berdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sample, bila dipandang orang tersebut cocok sebagai sumber data.

d). Purposive Sampling

Purposive sampling adalah teknik penentuan sample untuk tujuan tertentu saja. Misalnya akan melakukan penelitian tentang disiplin pegawai, maka sample yang dipilih adalah orang yang ahli dalam kepegawaian saja.

e). Sampel Jenuh

Sampling jenuh adalah teknik penentuan sample bila semua anggota populasi digunakan sebagai sample. Istilah lain dari sample jenuh adalah sensus

f). Snowball Sampling

Snowball sampling adalah teknik penentuan sample yang mula-mula jumlahnya kecil, kemudia sample ini disuruh memilih teman-temannya untuk dijadikan sample. Begitu seterusnya sehingga jumlah sample semakin banyak. Ibarat bola salju yang menggelinding, makin lama makin besar.

Walaupun berbagai teknik penentuan sample telah dikembangkan dan parameter-parameter untuk perkiraan telah diidentifikasikan, namun hampir tidak pernah peneliti dapat menentukan sample yang memcerminkan populasi secara sempurna. Hal ini terjadi terutama dalam lapangan ilmu-ilmu social dan kemanusiaan. Keadaan yang demikian itu lalu menimbulkan kebutuhan untuk dapat memperhitungkan atau setidak-tidaknya memperkirakan besar- kecilnya kekeliruan. Dalam analisis kekeliruan ketika melakukan generalisasi dari sample ke populasi itu disebut kekeliruan baku atau galat baku ( standard error ). Dasar teoritis yang dipergunakan untuk memperkirakan kekeliruan baku itu ialah teori probabilitas. Sampel-sampel tunduk pada hukum probabilitas ( Sumadi Surya Brata, 1998 : 84 ).
F. Kesimpulan

1. Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya.
2. Sample adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi
3. Digunakannya sample dalam penelitian adalah untuk mereduksi obyek penelitian dan melakukan generalisasi hasil penelitian, sehingga dapat ditarik kesimpulan umum.
4. Teknik penentuan sampel ( teknik sampling ) adalah cara menentukan sampel yang jumlahnya sesuai dengan ukuran sampel yang akan dijadikan sumber data sebenarnya, dengan memperhatikan sifat-sifat penyebaran populasi agar diperoleh sampel yang representatif.
5. Berbagai teknik penentuan sample pada hakekatnya adalah cara-cara untuk memperkecil kekeliruan generalisasi dari sample ke populasi sehingga diperoleh sample yang representativ, yaitu sample yang benar-benar mencerminkan populasinya.

Daftar Referensi :

Margono, S.,Drs., Metodologi Penelitian Pendidikan, PT Rineka Cipta, cetakan pertama, Jakarta, 1997

Sugiyono, DR., Metode Penelitian Administrasi, Alfabeta, cetakan kesembilan, Bandung, 2002

Suradika, H. Agus, DR.,MP.d., Metode Penelitian Sosial, UMJ Press, Jakarta, 2000

Suryabrata, Sumadi, BA.,Drs.,MA.,Ed.S.,Ph.D.,Metodologi Penelitian, Rajawali Pers, cetakan kesebelas, Jakarta, 1998.

Rosyad, Amiduddin, DR., Metode Riset Pendidikan, Jilid I, IAIN, Jakarta, 1987

Note: with special thanks to Mrs. Nurhidayah, M.M. for this article

Sumber :

e-book Referensi Pendidikan Berkualitas
http://boeditea.web.id/2009/09/08/populasi-dan-sampel-population-and-sample/comment-page-1/

0 komentar:

Poskan Komentar